PEMBERDAYAAN WANITA TANI DENGAN PELATIHAN PEMBUATAN
POT ORGANIK DARI JERAMI PADI DAN LIMBAH DAUN BAWANG MERAH
NIM : K1519024
Fahrudin Ali Fikri
Mahasiswa Program Studi ptb.fkip.uns.ac.id
A.
Latar Belakang
Desa Srigading
merupakan desa terbesar penghasil bawang merah di Kabupaten Bantul. Menurut
Badan Pusat Statistik Provinsi DIY (2016), produksi terbesar bawang merah
terbesar terdapat di Kabupaten Bantul yaitu 4.479 ton dengan luas 585 Ha.
Sedangkan pada tahun 2016, luas lahan meningkat menjadi 768 Ha dengan produksi
mencapai 7.904 ton (BPS, 2017). Hal ini menyebabkan limbah jerami dan daun
bawang merah sangat melimpah di wilayah ini. Sampai saat ini belum ada yang
memanfaatkan limbah tersebut. Jerami hanya sesekali digunakan untuk makanan
ternak, sedangkan jumlahnya sangat melimpah. Daun bawang merah hanya dibuang
begitu saja, bahkan ada yang dibakar. Bawang merah merupakan tanaman
umbi-umbian. Bagian bawang merah yang bernilai ekonomis tinggi adalah umbinya.
Pemanenan bawang merah dengan cara memotong antara trubus dan umbi. Umbi ini
selanjutnya akan dibersihkan lalu dijual.
Trubus/umbi tadi di
Desa Srigading belum dimanfaatkan oleh petani, padahal jumlahnya sangat
melimpah. Biasanya petani hanya menumpuk atau membakar limbah daun bawang
merah. Melihat peluang adanya peningkatan nilai ekonomis dari daun bawang merah
di Desa Srigading, maka dilakukan kegiatan pengabdian tentang pemanfaatan
limbah daun bawang merah sebagai campuran bahan pot organik.
Pot organik merupakan
pot atau bahan semai yang pembuatannya menggunakan bahan organik yang ramah
lingkungan. Prospek pemakaian pot organik akan semakin dibutuhkan dan menjadi
peluang komoditi yang dapat dipasarkan. Oleh karenanya standar bahan baku tersebut
harus berwawasan lingkungan dengan memenuhi syarat 4R, yaitu Reduce of
energy, Reuse, Replace dan Recycle. Selanjutnya, limbah jerami
dipilih karena mengandung selulosa dan lignin yang tinggi. Selain itu, dapat
juga merekatkan ikatan yang kuat antar molekulnya. Kegiatan ini dilakukan
karena selain di Desa Srigading tanahnya subur dan tersedianya air melimpah.
Kegiatan ini juga dibantu oleh wanita tani yang tergabung dalam Kelompok
Pengajian Nailul Hidayah.
B.
Tujuan Artikel
Tujuan
artikel ini untuk transfer teknologi pembuatan pot organik, pendampingan dan
monitoring pelaksanaan, pengembangan pot organik oleh mitra, serta perekonomian
masyarakat meningkat. Tujuan ini diharapkan tercapai dan bermanfaat bagi
masyarakat khususnya di Desa Srigading yang memiliki potensi-potensi salah
satunya di bidang pertanian dengan membuat pot organik dari jerami padi dan
daun bawang merah hasil panen masyarakat.
C.
Pembahasan
Desa Srigading
merupakan desa penghasil bawang merah terbesar di Kabupaten Bantul baik itu
varietas bawang merah lokal maupun impor. Dengan menerapkan pola tanam Padi
Bawang Merah Musim Tanam I (bulan April-Juni) Bawang Merah Musim Tanam II
(bulan Juli-September) Padi menyebabkan limbah jerami dan daun bawang merah
sangat melimpah di wilayah ini. Sampai saat ini belum ada yang memanfaatkan
limbah tersebut. Jerami hanya sesekali digunakan untuk makanan ternak,
sedangkan jumlahnya sangat melimpah. Daun bawang merah hanya dibuang begitu
saja, bahkan kadang ada yang dibakar.
Daun bawang merah
diyakini mengandung zat kitin. Zat kitin merupakan lapisan anti air, sehingga
daun bawang sulit meloloskan air. Melihat peluang adanya peningkatan nilai
ekonomis dari daun bawang merah di Desa Srigading, maka dilakukan kegiatan
pengabdian tentang pemanfaatan limbah daun bawang merah sebagai campuran bahan
pot organik yang diyakini mampu menjadi peluang komoditi yang dapat dipasarkan.
Limbah jerami dipilih
karena mengandung selulosa dan lignin yang tinggi. Selulosa dapat membentuk
ikatan yang kuat antar molekulnya. Selain itu jerami mengandung bahan organik
yang berperan penting dalam merekatkan butiran tanah membentuk agregat tanah
yang lebih mantap. Daun bawang merah diyakini mengandung zat kitin yang tinggi,
sehingga berpotensi sebagai penahan air dalam pot. Selain jerami padi dan daun
bawang merah, kotoran kandang juga digunakan sebagai bahan perekat. Kotoran
kandang ini mengandung bahan organik yang memiliki berbagai unsur hara yang
lengkap. Sehingga selain sebagai bahan
baku pot, kotoran kandang juga berfungsi sebagai cadangan unsur hara untuk
tanaman dalam pot. Pot organik yang ramah lingkungan dianggap praktis karena
dapat langsung ditanam ke dalam tanah tanpa harus membuka wadah. Selain itu pot
organik diharapkan dapat terdekomposisi secara cepat serta tidak menyebabkan
kerusakan lingkungan.
Teknologi pembuatan pot
organik berbahan limbah jerami padi dan daun bawang merah telah diimplementasikan di lokasi mitra yaitu
di Dusun Sogesanden Desa Srigading Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul. Mitra
yang tergabung dalam kegiatan ini adalah Majelis Taklim Nailul Hidayah. Metode
yang dilakukan adalah dengan memberdayakan masyarakat (participatory rural
appraisal) untuk membuat pot organik dengan penekanan pada inovasi dan
teknologi. Pelaksanaan kegiatan pemberdayaan dilakukan melalui langkah-langkah
yaitu analisis, sosialisasi program dengan mitra, pelatihan pembuatan pot,
pengujian pot, dan evaluasi.
Kegiatan pertama yang
dilakukan adalah kegiatan Focus Group
Discussion (FGD) dilakukan oleh Tim Pengabdi sebanyak empat kali. Hasil FGD menunjukkan bahwa masyarakat ingin
memanfaatkan limbah jerami padi dan daun bawang merah menjadi barang yang
bernilai ekonomis tinggi.
Kegiatan yang
selajutanya yaitu penyuluhan di mana pengabdi memberikan beberapa contoh state
of the art pembuatan pot organik yang telah dilakukan di beberapa daerah.
Kegiatan yang telah dilaksanakan meliputi penyiapan peralatan dan perlengkapan
pelatihan, penyusunan modul/materi pelatihan, dan penyuluhan tentang
pemanfaatan pot organik.
Setelah dilakukan penyuluhan,
kegiatan yang selanjutnya yaitu pembuatan pot organik. Bahan-bahan yang
digunakan sebagai bahan pembuatan pot organik berbahan campuran limbah jerami
dan daun bawang merah adalah 1 kg jerami yang telah dipotong kecil-kecil, 1 kg
daun bawang merah, dipotong kecil, 1 kg pupuk kandang, 0,5 kg tepung kanji, dan
air secukupnya. Alat-alat yang digunakan meliputi ember, pisau, sarung tangan,
pengaduk kayu, penumbuk.
Cara membuat pot
organik :
1. Jerami dan daun
bawang merah dipotong-potong kecil.
2. Pupuk kandang dihaluskan, disaring dengan ayakan
lalu campurkan dengan jerami dan daun bawang merah.
3. Masukkan tepung kanji lalu beri air secukupnya
sampai dirasa cukup untuk dibentuk/cetak
4. Cetak/press
menggunakan cetakan pot.
5. Lalu jemur sampai kering,
setelah kering pot siap digunakan.
D.
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat
diambil dari kegiatan tersebut adalah respon masyarakat terhadap pemanfaatan
jerami padi dan daun bawang merah sebagain bahan campuran pot organik yang
sangat tinggi serta pot organik bisa dikembangkan untuk mengurangi limbah dan
meningkatkan nilai tambah barang. Dan juga perlu adanya penilaian kelayakan
usaha dan pendampingan agar produk pot organik bisa dijual untuk umum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar